Warga Klaten Nyadran di Makam Leluhur

oleh -84 views
Rangkaian-prosesi-upacara-tradisi-Nyadran-diawali-dengan-kenduri-bersama-yang-dilakukan-oleh-semua-warga-di-Padukuhan-Karangmoncol-khususnya-RT-04-RW-01-Desa-Sanggrahan-(Agus/jogjalima

JOGJALIMA.com, KLATEN – Ratusan warga masyarakat Padukuhan Karangmoncol 04/01, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), dengan khidmat menyelenggarakan upacara tradisi pembersihan makam leluhur, kendurian, dan tabur bunga atau sering disebut Nyadran, Sabtu, (27-04).

Salah seorang tokoh masyarakat setempat Sugiyono (65) menjelaskan, istilah Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Sradha”. Istilah yang digunakan warga Hindu untuk upacara pemuliaan roh leluhur.

Warga Karangmoncol bersiap Nyekar (Foto: Agus/jogjalima)

Baca juga: Ajang Promosi Bergengsi Thailand, Dinas Pariwisata DIY Suguhkan ‘Senyum Indonesia’

Masuknya Islam membuat ritual Sradha menjadi tradisi Nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah. Kosa kata Ruwah merujuk pada kata Arwah, di mana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan orangtua, termasuk yang sudah meninggal, sebagaimana yang diajarkan Sunan Kali Jaga, salah satu Wali Allah di Tanah Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *