MAHASISWA BERGERAK MENDOBRAK PINTU KEKUASAAN

oleh -19 views
Ratusan mahasiswa menggelar aksi menolak RUU KUHP dan UU KPK yang baru di depan gerbang pintu gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis 19 September 2019 (Foto: tempo.co/M Taufan Rengganis)

Upaya meredam kampus dengan berbagai cara akhirnya jebol juga.  Isu radikalisme gencar dihembuskan ke lingkungan perguruan tinggi. Menristekdikti pernah berujar pentingnya pengawasan ketat terhadap dosen yang terpapar radikalisme.  Perguruan tinggi ternama dalam proses seleksi pimpinan melibatkan BIN dam BNPT. Pencengkeraman kampus dinilai luar biasa. Tentu berharap mahasiswa pun bisa dikontrol dan dikendalikan. Sepertinya usaha ini akan sukses dan ber-eskalasi menuju pengendalian yang terstruktur dan masif.

Otoritarian bergerak “nyaman” di tingkat kekuasaan. Pemerintah memiliki lingkaran yang kokoh. TNI, Polisi, Birokrasi hingga Parlemen  telah terpolakan. Partai-partai oposisi mendekat lingkaran, mencari sesuap menteri atau sedekah jabatan. Kecurangan Pemilu yang disorot berhasil didinginkan, pelanggaran HAM atas korban “kerusuhan” dikanalisasi, krisis ekonomi dapat dikambinghitamkan pada fluktuasi global. Kriminalisasi ulama dibahasakan de-radikalisasi, kebakaran hutan bisa diatasi dengan foto diri dan sepatu berdebu. Reaksi soal intervensi KPK dipersilahkan ke MK, artinya semua bisa dibingkai. Ketika kepepet ya salahkan saja pada takdir Allah. Moeldoko memang sangat beriman.

Namun waktu menghukum juga. Media Tempo mengangkat “figur pinokio” di cover majalahnya. Urusan korupsi yang dicoba untuk diproteksi akhirnya dapat menjebol mahasiswa dari kungkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *