Bukan hanya karena dalih Idul Fitri. Yang tidak merayakannya pun mulai eksodus secara besar-besaran ke kampung halaman, meski di tanah kelahirannya mereka menemukan kenyataan pahit, bahwa kampung halaman mereka mulai memasang portal, tanda pendatang tidak boleh masuk area yang diklaim steril Corona.
Dalam hal ini Pemerintah Pusat tidak menyadari, bahwa terjadi penyebaran depresi baru secara nasional.
Islam cukup nyata dalam menyempurnakan lockdown dengan puasa hanya dalam durasi 12 jam. Dijamin lockdown versi Islam mendatangkan ampunan dan ketenangan jiwa. Tetapi faktanya bagaimana? Malah diacak-acak.
Ada ujian berat, bahwa sholat berjamaah (taraweh) di masjid dilarang dengan alasan yang dibenar-benarkan. Ini tidak pula disadari, bahwa bom waktu bisa meledak sewaktu-waktu.