(Yogyakarta) — Sebanyak 42 mahasiswa peserta program Planetary Health dari Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti kegiatan Sekolah Sungai: Jelajah Kampung Code dan Susur Sungai, Rabu (3/2/2026).
Para peserta merupakan hasil seleksi ketat dari sekitar 600 pendaftar yang dinyatakan lolos mengikuti perkuliahan Planetary Health. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi, antara lain UGM, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Udayana, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan perguruan tinggi lainnya, dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, mulai dari Kedokteran, Kehutanan, Biologi, hingga bidang terkait, baik jenjang S1, S2, maupun S3.
Kegiatan lapangan ini dipimpin oleh Dr. Daniel, MSc dan drh. Erwan Budi Hartadi, MSc, serta diterima langsung oleh Totok Pratopo selaku perwakilan komunitas di kawasan Kali Code.
Rangkaian kegiatan diawali dengan observasi langsung kehidupan masyarakat di Gondolayu, Kampung Romo Mangun, yang dipandu oleh Ariyanto, sesepuh warga setempat.
Selanjutnya peserta bergeser ke Kampung Tangguh Pangan di Kebun Sayur Teras Hijau, tempat ibu-ibu warga mengelola pertanian kota dengan menanam berbagai jenis sayuran, padi, sorgum, dan buah-buahan, serta melakukan pembesaran ikan lele yang dipercaya mampu menyuplai kebutuhan dapur MBG.
Selain itu, peserta juga diajak berkeliling kampung untuk mengamati praktik pemilahan sampah berbasis rumah tangga di Bank Sampah Bumi Lestari, yang dikenal sebagai Bank Sampah Teladan Tingkat DIY. Kunjungan dilanjutkan ke Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Taman Robin, instalasi IPAL komunal dan IPAL portable, serta pengenalan peralatan Early Warning System (EWS). Kegiatan diakhiri di kawasan Pasar Minggon Code, Air Bersih Tirta Kencana, dan Galeri Sekolah Sungai.
Menurut Harris Syarif Usman, pengelola Sekolah Sungai, kegiatan field trip ini menitikberatkan pada pembelajaran bagaimana masyarakat mampu membangun ketahanan kesehatan dan lingkungan secara mandiri.
“Fokus kami adalah bagaimana warga menginisiasi pemenuhan asupan gizi melalui pertanian kota di lahan sempit, sekaligus mengelola limbah dan sampah dengan baik. Sampah dipilah sejak tingkat keluarga, kemudian dibawa ke bank sampah, terutama sampah anorganik melalui program Mas Jos, sehingga tidak lagi dibuang ke Kali Code,” jelas Harris.
Terkait aspek kebencanaan, para peserta mengaku kagum dengan kiprah Kampung Tangguh Bencana yang secara aktif melakukan berbagai simulasi banjir dan longsor. Upaya mitigasi ini dinilai mampu menekan risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana terjadi.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Bahkan, beberapa di antaranya menyatakan ketertarikan untuk terlibat langsung sebagai pegiat Kali Code, seperti Lintang (mahasiswa Kedokteran UGM) dan Fikri (mahasiswa Kehutanan UGM).
“Kegiatan Sekolah Sungai ini membuka perspektif baru bahwa isu kesehatan, lingkungan, dan resiliensi masyarakat saling terhubung dan bisa dimulai dari komunitas,” pungkas Harris. (Sus)






