Mahasiswa Jepang Terkesan Tradisi Apeman Warga Kali Code

oleh -9 views

(Yogyakarta) – Rombongan mahasiswa Yamanashi Eiwa College, Jepang, mengunjungi Kampung Jetisharjo, kawasan Kali Code, Yogyakarta, Minggu (8/2/2026). Kunjungan ini dipimpin oleh Profesor Toshiya Tsukamoto dan MS Kinu Okuba sebagai bagian dari program kunjungan budaya selama sepuluh hari di Indonesia.

Kehadiran para mahasiswa Jepang tersebut disambut hangat oleh Totok Pratopo bersama pengurus kampung setempat. Turut hadir dalam penyambutan Ketua RT Suratmi, Hj. Salamah, serta Sudiarso selaku Ketua Bergodo Pasembaja Code.

Selama berada di Indonesia, rombongan mahasiswa Yamanashi Eiwa College memperdalam pengetahuan tentang kekayaan budaya Nusantara. Berbagai kegiatan yang diikuti antara lain belajar tari klasik, gamelan, membatik, serta kunjungan ke Kraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg, Candi Borobudur, dan sejumlah destinasi budaya lainnya. Mereka juga mempelajari konservasi lahan untuk ketahanan air serta resiliensi atau mitigasi bencana di Yogyakarta.

Saat berkunjung ke warga Kali Code, rombongan mahasiswa disuguhi sajian tradisional berupa kue apem. Sajian tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa Jepang yang antusias mencicipi sekaligus mempelajari makna budaya di balik tradisi Apeman.

Baca Juga : Selamat dan Sukses untuk Tim POPDA PTMSI Kota Yogyakarta. Ini Terbukti!

Menurut Harris Syarif Usman, pengelola Sekolah Sungai, tradisi Apeman mengandung nilai-nilai luhur yang berkaitan erat dengan aspek keagamaan dan sosial masyarakat. Secara spiritual, tradisi ini menjadi momentum untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Selain itu, tradisi Apeman juga menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT serta ungkapan kegembiraan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan,” jelas Harris.

Ia menambahkan, kata “apem” diadopsi dari bahasa Arab afwun yang berarti maaf. Tradisi ini melambangkan permohonan maaf atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Apeman biasanya dilaksanakan pada bulan Sya’ban atau Ruwah menjelang Ramadhan, di mana masyarakat berkumpul untuk membuat kue apem secara bersama-sama, kemudian membagikannya kepada tetangga dan warga sekitar.

“Tradisi ini tidak hanya memperkuat nilai kebersamaan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” tandas Harris. (Sus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *