Dalam Kisah-kisah Manusia Suci, Perang Khaibar tidak diceritakan semata sebagai catatan peperangan, tetapi sebagai cermin batin manusia—tentang iman, keikhlasan, dan cara Allah menurunkan pertolongan-Nya pada saat yang paling menentukan.
Khaibar adalah wilayah benteng-benteng kokoh milik kaum Yahudi yang selama ini menjadi pusat kekuatan politik dan militer di utara Madinah. Benteng-benteng itu berdiri megah, sulit ditembus, dan menimbulkan rasa gentar bahkan sebelum pedang terhunus. Secara kasat mata, Khaibar adalah simbol kekuatan duniawi yang nyaris tak tergoyahkan. Pasukan kaum Muslimin mengepung Khaibar dalam situasi yang tidak mudah. Beberapa sahabat telah silih berganti memimpin penyerangan, namun benteng-benteng itu tetap berdiri. Kemenangan belum juga datang. Di titik inilah Rasulullah ﷺ menyampaikan sabda yang kelak dikenang sepanjang sejarah:
“Besok aku akan menyerahkan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya. Melalui tangannya, Allah akan memberikan kemenangan.”






