Perang Khaibar : Ketika Kemenangan Lahir dari Ketulusan dan Kepasrahan

oleh -22 views

Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib. Saat itu, Ali sedang menderita sakit mata hingga hampir tak dapat melihat. Rasulullah ﷺ menyentuh dan mendoakan matanya—dan seketika itu pula Ali sembuh. Namun, sebagaimana ditekankan dalam kisah-kisah manusia suci, kesembuhan itu bukanlah inti cerita. Intinya adalah siapa Ali di hadapan Allah.

Ali maju bukan sebagai pahlawan yang haus kemenangan, tetapi sebagai hamba yang sepenuhnya berserah. Dalam riwayat yang ditekankan Sayyid Mahdi Ayatullah, keberanian Ali bukanlah keberanian fisik semata, melainkan keberanian ruhani—keteguhan hati yang tidak gentar karena ia tidak bertumpu pada dirinya sendiri, melainkan pada Allah.

Ketika pintu benteng Khaibar akhirnya roboh di tangannya, sejarah mencatatnya sebagai kemenangan militer. Namun para arif melihatnya sebagai kemenangan iman atas kesombongan, ketulusan atas ambisi, dan tawakal atas rasa takut. Bahkan disebutkan bahwa Ali mengangkat pintu benteng itu sendirian—sebuah gambaran simbolik tentang kekuatan yang lahir ketika ego telah ditanggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *