Di sinilah pola sunyi itu bekerja. Kerentanan psikologis jarang terdeteksi lebih awal. Stigma masih kuat, membuat banyak orang memilih memendam tekanan. Kesedihan disembunyikan, masalah dipikul sendiri, hingga akhirnya tak tertahankan.
Sistem sosial pun kerap datang terlambat. Pendampingan kesehatan mental masih terbatas, baik dari sisi jangkauan maupun akses. Edukasi publik tentang kesehatan mental belum menjadi arus utama. Sementara itu, tekanan ekonomi dan sosial terus menghimpit, terutama di kelompok rentan.
Dalam kondisi seperti ini, tragedi sering dipahami sebagai akhir dari masalah pribadi, bukan kegagalan kolektif. Padahal, pencegahan selalu membutuhkan kehadiran lebih awal—mendengar sebelum terlambat, menjangkau sebelum krisis.

