Pohon Tumbang di Bangsal Sewokoprojo dan Memori 2010–2011

oleh -145 views

RETROSPEKTIF | CATATAN SEJARAH & REFLEKSI

Gunungkidul – Rabu siang, 18 Februari 2026, pukul 14.30 WIB, sebuah pohon besar di kompleks Bangsal Sewokoprojo tumbang. Cuaca ekstrem—hujan deras disertai angin kencang—menjadi penjelasan paling rasional atas peristiwa tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya, satu pohon lain di kawasan yang sama juga roboh. Tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian itu. Secara teknis, semuanya dapat dijelaskan oleh faktor alam : usia pohon, struktur akar, dan intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Namun lokasi peristiwa membuat ingatan publik bergerak mundur. Periode tahun 2010–2011, sebuah pohon di kawasan yang sama pernah tumbang. Tidak lama berselang, Kabupaten Gunungkidul memasuki masa duka beruntun.

Bupati saat itu, Prof. Sumpeno, wafat. Dalam kurun waktu yang berdekatan, lima pejabat daerah lainnya juga meninggal dunia. Rangkaian peristiwa tersebut meninggalkan jejak psikologis yang kuat dalam memori kolektif masyarakat.

Baca Juga: Dugaan Pemotongan Jasa Pelayanan Rp10,3 M di RSUD Wonosari Diusut Kejaksaan

Tentu saja, tidak ada hubungan sebab-akibat antara pohon tumbang dan wafatnya para pejabat. Alam tidak bekerja dalam logika pertanda yang linier. Namun dalam kebudayaan Jawa, alam sering dibaca bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan juga ruang simbolik.

Kompleks Bangsal Sewokoprojo bukan sekadar rumah dinas. Ia adalah simbol pemerintahan, pusat keputusan, sekaligus representasi otoritas daerah. Pohon-pohon tua yang tumbuh di dalamnya kerap dipandang sebagai lambang keteduhan, kestabilan, dan keberlanjutan. Ketika pohon besar tumbang, sebagian masyarakat memaknainya sebagai momentum untuk eling lan waspada—ingat dan mawas diri.

Dalam falsafah Jawa, kepemimpinan bukan semata jabatan administratif. Ia adalah laku batin. Dalam Serat Wulangreh, terdapat ajaran:

“Aja dumeh, aja gumunan, aja kagetan.” (Jangan merasa paling berkuasa, jangan mudah terpesona, jangan mudah terkejut.) Petuah itu mengajarkan keseimbangan batin bagi seorang pemimpin. Kekuasaan tidak boleh melahirkan kesombongan. Perubahan tidak boleh melahirkan kepanikan.

 Sementara dalam Serat Wedhatama, terdapat ajaran tentang eling lan waspada—kesadaran dan kewaspadaan sebagai inti kepemimpinan :“Ngelmu iku kalakone kanthi laku.” (Ilmu hanya bermakna jika dijalani dalam laku.)

Baca Juga: Gantung Diri di Gunungkidul, Tragedi yang Terus Berulang

Pohon tua yang tumbuh di halaman pusat pemerintahan sering dimaknai sebagai lambang keteduhan. Ia berakar dalam, menaungi banyak orang, berdiri melampaui musim. Ketika pohon itu tumbang, sebagian masyarakat Jawa membacanya bukan sebagai pertanda gaib, melainkan sebagai momentum mawas diri. Dalam budaya Jawa, alam sering menjadi cermin. Ia tidak berbicara, tetapi menghadirkan tanda bagi siapa saja yang ingin membaca dengan kebeningan batin.

Peristiwa Rabu siang itu sangat mungkin murni fenomena meteorologis. Namun sejarah membuatnya tidak sepenuhnya kosong dari tafsir. Setiap daerah memiliki memori kolektif. Dan memori itulah yang kadang muncul kembali ketika simbol-simbol tertentu berubah atau runtuh.

Apakah ini pertanda? Tidak ada yang bisa—dan perlu—menjawabnya secara spekulatif. Yang lebih penting adalah menjadikannya sebagai ruang refleksi. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *