Tirakat Hati dan Puasa Ramadhan 1447 H: Menjernihkan Batin di Tengah Hiruk-Pikuk Zaman

oleh -5 views

(OPINI) Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H ini, kaum muslimin dan muslimat kembali dipanggil bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga untuk melakukan tirakat hati. Dalam tradisi spiritual, tirakat sering dimaknai sebagai laku prihatin, menahan diri dari kesenangan duniawi demi tujuan yang lebih tinggi. Namun bagi seorang muslim, tirakat sejati tidak berhenti pada fisik; ia harus menjangkau kedalaman hati.

Puasa di bulan Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia melatih disiplin, kesabaran, dan keikhlasan. Akan tetapi, yang lebih mendasar adalah bagaimana puasa menjadi sarana penyucian batin. Tirakat hati berarti membersihkan iri, dengki, sombong, dan prasangka buruk, penyakit-penyakit yang sering lebih berbahaya daripada rasa lapar itu sendiri.

Di era digital yang serba cepat, tantangan tirakat hati justru semakin besar. Media sosial menghadirkan ruang perbandingan tanpa batas; berita dan opini berseliweran memancing emosi; gaya hidup konsumtif kian dipertontonkan.

Dalam konteks ini, puasa Ramadhan 1447 H seharusnya menjadi momentum untuk “berpuasa” dari kebisingan batin: menahan diri dari komentar yang menyakitkan, dari amarah yang meledak-ledak, dan dari keinginan untuk selalu tampil lebih.

Tirakat hati juga berarti menguatkan empati sosial. Lapar yang kita rasakan seharusnya menghidupkan solidaritas terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan sepanjang tahun. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi panggilan untuk menghadirkan keadilan dan kasih sayang dalam kehidupan nyata.

Lebih jauh, tirakat hati mengajarkan kesadaran bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari kuantitas ritual, tetapi dari transformasi akhlak. Jika setelah Ramadhan seseorang masih mudah menyakiti, masih gemar mencaci, dan masih berat memaafkan, maka tirakatnya belum menyentuh inti. Ramadhan mestinya menjadi titik balik, mengasah kepekaan nurani dan memperhalus budi pekerti.

Akhirnya, puasa Ramadhan 1447 H hendaknya kita maknai sebagai perjalanan batin. Ia bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi menunggu hati menjadi lebih jernih. Tirakat hati adalah proses sunyi yang mungkin tak terlihat orang lain, namun di situlah letak kemuliaannya. Sebab pada akhirnya, kemenangan sejati di hari raya bukan hanya karena berhasil menahan lapar, tetapi karena berhasil menundukkan ego dan membersihkan jiwa.

Semoga Ramadhan kali ini menjadi ruang perenungan yang mendalam—bukan hanya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tetapi juga memperindah hubungan kita dengan sesama manusia.

Oleh: Abi Aziz (Warga Yogyakarta Selatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *