Oleh : ummafidz
Ramadhan selalu datang sebagai tamu istimewa. Ia tidak hanya membawa kewajiban berpuasa, tetapi juga mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak, menata ulang niat, dan membersihkan hati. Di bulan inilah Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, seolah memberi kesempatan baru bagi hamba-Nya yang ingin kembali pulang.
Menjelang Ramadhan, manusia kerap sibuk mempersiapkan hal-hal lahiriah : jadwal puasa, menu sahur, hingga agenda buka bersama. Namun para ulama sejak dulu mengingatkan bahwa persiapan terpenting adalah persiapan batin. Sebab, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan panjang mengendalikan hawa nafsu.
Dikisahkan, para sahabat Nabi SAW menyambut Ramadhan dengan kesungguhan luar biasa. Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan sedikitnya amal, tetapi sibuklah dengan apakah amal itu diterima atau tidak.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah jauh lebih utama daripada kuantitasnya. Ramadan bukan soal banyaknya ibadah lahiriah, tetapi tentang hati yang jujur dan tunduk.

