Keistimewaan Sholat dan Zikir Bagi Umat Islam

oleh -7 views

Di era digital yang serba cepat ini, manusia modern hidup dalam kepungan informasi yang tak henti-hentinya mengalir. Gadget telah menjadi perpanjangan tangan, dan media sosial bertransformasi menjadi ruang publik utama. Namun, di balik kemudahan konektivitas tersebut, muncul fenomena “kegaduhan batin”. Gangguan kecemasan, perasaan terasing (FOMO), hingga degradasi moral menjadi tantangan nyata. Bagi umat Islam, Sholat dan Zikir bukan sekadar rutinitas ibadah kuno, melainkan “teknologi spiritual” yang menjadi solusi atas dahaga kedamaian di tengah hiruk-pikuk algoritma.

​Jika dunia digital menawarkan koneksi antarmanusia melalui sinyal nirkabel, Sholat menawarkan koneksi langsung (mushofahah) antara hamba dengan Sang Khalik. Dalam sehari semalam, lima waktu sholat hadir sebagai breakroom spiritual untuk melakukan reset terhadap beban mental yang menumpuk.

​Keistimewaan sholat di era digital adalah fungsinya sebagai penjaga batas moral. Saat konten negatif hanya sejauh sentuhan jari, sholat menjadi benteng pertahanan. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:

​”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

​Di dunia maya, di mana anonimitas seringkali membuat orang mudah menghujat atau melihat hal yang tidak pantas, sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan menanamkan kesadaran bahwa ada “Mata” yang selalu mengawasi (Muraqabah). Sholat melatih fokus manusia yang mulai terkikis oleh durasi video pendek yang membuat rentang perhatian (attention span) kita semakin memendek.

​Era digital sering kali memaksa kita untuk terus membandingkan hidup dengan orang lain. Hal ini memicu stres dan rasa tidak cukup. Di sinilah Zikir memainkan peran krusial sebagai penenang saraf-saraf spiritual yang tegang.

​Zikir adalah aktivitas mengingat Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Di sela-sela mengetik e-mail atau menunggu antrean transportasi online, lisan yang basah dengan zikir mampu mengubah energi negatif menjadi ketenangan. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

​”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

​Dalam perspektif psikologi modern, zikir memiliki efek serupa dengan meditasi atau mindfulness, namun dengan dimensi yang lebih dalam karena adanya keterikatan tauhid. Ia melepaskan hormon endorfin yang menenangkan batin, menghalau kebisingan notifikasi yang terus menghantui pikiran.

​Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bersabda:

​”Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”

​Hadist ini sangat relevan untuk menggambarkan kondisi manusia di era digital. Seseorang mungkin tampak sangat aktif di media sosial (hidup secara digital), namun batinnya kering dan hampa (mati secara spiritual) jika jauh dari zikir.

​Keistimewaan sholat dan zikir di zaman ini juga terletak pada kemudahannya untuk dipelajari dan diamalkan melalui bantuan teknologi itu sendiri. Aplikasi pengingat waktu sholat, Al-Qur’an digital, hingga kanal YouTube yang berisi tuntunan zikir harus dimanfaatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Namun, kita harus waspada agar perangkat digital tidak justru menjadi penghalang kekhusyukan. Ironis rasanya jika saat sholat, pikiran kita justru melayang pada notifikasi ponsel yang baru saja bergetar.

​Bagi umat Islam, era digital bukanlah ancaman, melainkan medan ujian. Sholat adalah jangkar yang menjaga kita agar tidak hanyut dalam arus hedonisme dan materialisme digital, sementara Zikir adalah kompas yang memastikan hati tetap menuju arah yang benar di tengah rimba informasi yang menyesatkan.

​Kombinasi keduanya menciptakan individu yang tangguh secara mental dan jernih secara intelektual. Dengan menjaga kualitas sholat dan intensitas zikir, seorang Muslim tidak akan kehilangan jati dirinya. Ia akan menjadi pengguna teknologi yang bijak, yang jempolnya hanya mengetik kebaikan, dan hatinya selalu terpaut pada keabadian, bukan sekadar popularitas saat di layar kaca.

Oleh: Abu Aziz (Warga Jogja Selatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *