“Nyadran itu bagian dari budaya atau tradisi warisan leluhur kami. Kita menyediakan beragam makanan seperti jajanan pasar, apem, pisang raja, buah-buahan, dan yang lainnya, bukan untuk sesaji atau orang Jawa bilang sajen. Tetapi ini sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan,” jelas Sugiyono.
Lebih lanjut dia menyampaikan, sudah menjadi kebiasaan saat tradisi Nyadran, semua kerabat, anak, cucu, cicit berkumpul, dan saling silaturahim sebelum nantinya mereka bersama-sama ziarah ke makam leluhur.

Baca juga: Rahasia Madu Thailand yang Kaya Manfaat
“Jadi pendapat salah bila mengatakan kita memberi sajen. Ragam makanan yang kita siapkan untuk anak, cucu, cicit kita, agar mereka senang,” ungkap Sugiyono.